SearchSeptember 4, 2006 3:38 pm

Search 3:17 pm



Search 2:36 pm

Fisika 1:48 pm


Albert Einstein (1879 - 1955)


Enrico Fermi (1901 - 1954)

Articles 1:36 pm

4. Kepemimpinan Demokratis guru sebagai suatu model

Guru yang demokratis tidak sekedar memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengemukakan idenya, tetapi juga mendukung ide tersebut dan mendorong siswa untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya. Sifat demokratik dalam komunikasi guru-siswa mempunyai ciri-ciri: 1) menerima, menjelaskan, dan mendukung ide serta perasaan orang, 2) memuji dan membesarkan hati, 3) bertanya dan merangsang partisipasi, 4) pertanyaan berorientasi pada kerja individu atau siswa (Bellach, 1970 dalam Cribbin, 1981).

Sifat demokratik dalam komunikasi siswa-guru tersebut akan menciptakan suasana yang kondusif untuk pengembangan kreativitas. Siswa akan memiliki keberanian untuk mengemukakan ide dan pendapatnya karena mereka yakin ide dan pendapat tersebut akan dihargai oleh gurunya. Siswapun belajar untuk menghargai pendapat orang lain, sebagaimana pendapatnya dihargai oleh guru. Siswa belajar untuk berargumentasi untuk mempertahankan pendapatnya namun tetap menghormati dan menghargai pendapat yang berbeda. Sikap guru yang merangsang partisipasi siswa akan menciptakan suasana belajar yang dinamis karena partisipasi aktif dari seluruh siswa. Pembentukan kelompok kerja dan kelompok diskusi yang kecil di dalam kelas akan mempermudah siswa untuk berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Peran guru sebagai leader adalah sebagaimana dikemukakan oleh Cartwright dan Zander merupakan suatu tindakan yang mendukung siswa untuk mencapai tujuannya, dalam hal ini tujuan pembelajaran.

Leadership can be viewed ‘as the performance of those acts which help the group achieve its preferred outcomes. Such acts may be termed group functions.’ (Cartwright dan Zander 1968 dalam Gastil 1994)

Kepemimpinan demokratis guru melatih dan mendorong siswa untuk memiliki keberanian mengemukakan pendapat, ketrampilan berbicara dan berpikir bebas, kemampuan berorganisasi, serta kematangan emosional dan kemampuan berpikir rasional. Dengan ketrampilan tersebut maka setiap siswa didorong untuk mengembangkan potensinya sebagai pemimpin, dengan guru yang demokratis sebagai model.
Good leader can expand their ranks by becoming ’a role models’ to change novices from ’followers’ to leaders.(Baker 1982:325, dalam Gastil 1982))

Jadi kepemimpinan demokratis guru berfungsi untuk memberdayakan siswa dan mengajarkan bahwa leadership is a behaviour, not position (Bass 1990 dalam Gastil 1982), sehingga setiap orang mampu menjadi pemimpin.

Namun inti dari penerapan kepemimpinan demokratis di kelas adalah sebagai pembelajaran praktis untuk menumbuhkan sikap demokratis kepada siswa, yaitu sikap saling menghargai terhadap sesama manusia yang didasari dengan keyakinan bahwa setiap individu memiliki kesetaraan serta kebebasan berpikir dan bertindak. Menghargai perbedaan pendapat sebagai suatu dinamika dalam masyarakat sehingga tidak memaksakan kehendak dan pendapatnya sebagai suatu kebenaran mutlak.(IS)

Articles 1:31 pm

3. Kapan kepemimpinan demokratis di dalam kelas dapat mulai diterapkan?

Kemampuan mengemukakan ide dengan cerdas dan santun tidak muncul dalam sekejap. Agar siswa dapat lebih mudah menyerap nilai-nilai demokrasi maka siswa perlu didedahkan sejak dini terhadap kondisi yang demokratis. Oleh karena itu, kepemimpinan guru yang demokratis harus diterapkan sejak pendidikan usia dini. Tentu saja tidak mungkin mengharapkan anak usia dini mengemukakan argumentasi dengan jelas atau berdiskusi sebagaimana layaknya siswa sekolah menengah, namun kepemimpinan demokratis dapat dimulai dengan menunjukkan penghargaan terhadap ide yang muncul pada anak usia dini.

Anak usia dini ingin dan perlu mengekspresikan ide dan pesan melalui berbagai cara dan media simbolik. Mereka membentuk gambaran mental yang mewakili ide-ide dan berkomunikasi dengan dunia melalui kombinasi dari berbagai cara. Guru berperan sebagai pendamping dan harus berhati-hati untuk tidak memaksakan keyakinan dan ide orang dewasa kepada anak-anak (Edward dan Springate 1995)

Sebagai sebuah ilustrasi, seorang anak menggambar sebuah mobil berwarna merah dengan empat buah ban yang berwarna kuning dan biru. Gambar tersebut bagi orang dewasa tidak realistis, karena tidak ada ban mobil berwarna kuning dan biru (untuk saat ini). Untuk si anak, gambar tersebut mungkin mewakili imajinasinya yang merasa bosan melihat mobil dengan warna ban yang sama, dan mungkin juga mewakili perasaannya yang sedang riang. Ketika perasaan si anak sedang marah atau sedih, mungkin dia akan menggambar mobil dengan ban berwarna merah menyala atau ungu. Gambar anak tersebut dapat mewakili imajinasinya atau merupakan sebuah pesan simbolik mengenai perasaannya. Oleh karena itu tidak dapat dilakukan justifikasi bahwa gambar anak tersebut salah.

Ketika guru bersikap otokratik dan tidak mengijinkan anak tersebut menggambar sesuai dengan keinginannya, maka secara tidak sadar guru tersebut telah menghalangi anak tersebut mengungkapkan ekspresi dan idenya. Dalam terminologi Dewey, anak tersebut telah kehilangan kebebasan berpikir dan berekspresi. Sebaliknya, guru yang demokratis memberikan dorongan kepada anak untuk mengekspresikan ide dan pemikirannya secara bebas. Guru memberikan ruang kepada anak untuk melakukan eksplorasi dan belajar melalui proses trial and error.

One of the challenges of schools is to build on children’s motivation to explore, succeed, understand and harness it in the service of learning (Piaget, 1978 dalam Bransford dan Brownm 1999)

Pengalaman yang diperoleh anak usia dini melalui diskusi terbuka juga merupakan suatu pengalaman belajar yang akan membantu anak melihat hubungan dari berbagai materi yang dipelajarinya.
Young children learn through meaningful activities in which different subject areas are integrated. Open-ended discussions and long-term activities bring together whole- language activities, science, social studies, dramatic play, and artistic creation. Activities that are meaningful and relevant to the child’s life experiences provide opportunities to teach across the curriculum and assist children in seeing the interrelationships of things they are learning. (Edward dan Springate 1995)

Pada pendidikan anak usia dini yang menerapkan konsep area atau sentra, anak-anak diajak berdiskusi mengenai materi yang akan mereka pelajari serta sentra atau area yang akan mereka kunjungi pada hari itu. Disini anak-anak diajarkan untuk self-direction, mengetahui dan mampu mengungkapkan keinginan mereka. Anak-anakpun berlatih untuk menghargai keinginan teman mereka dan belajar berbagi dengan menggunakan suatu area atau sentra bersama-sama.Jadi anak-anak langsung menerapkan konsep demokratis dalam keseharian mereka, tanpa dibebani konsep-konsep teoritis mengenai demokrasi. -IS)

ArticlesSeptember 3, 2006 7:29 am

2. Penerapan kepemimpinan demokratis di dalam kelas

Penerapan kepemimpinan demokratis di dalam ruang kelas dapat dilakukan dengan mempraktekkan konsep-konsep demokratik yang telah diuraikan sebelumnya.

Di dalam kelas yang demokratis, popular soveregnty dapat diimplementasikan dengan melibatkan siswa sebanyak mungkin dalam pengambilan keputusan. Pemilihan pengurus kelas yang dilakukan secara demokratis merupakan salah satu contoh yang biasa dilakukan di sekolah. Siswa dapat pula dilibatkan dalam membuat peraturan di dalam kelas, bahkan dilibatkan dalam menentukan proyek yang akan dilakukan mereka sehubungan dengan materi pelajaran yang diberikan.

Pengambilan keputusan di dalam kelas dapat dilakukan baik berdasarkan kesepakatan bersama (concensus model) ataupun berdasarkan keputusan suara terbanyak (majority rules model). Untuk hal-hal tertentu yang bersifat krusial atau berhubungan dengan kebijakan sekolah, guru dapat berperan sebagai influencer yang mengarahkan proses pengambilan keputusan (influence model). Model apapun yang digunakan dalam prose pengambilan keputusan, setiap anggota kelas memiliki kebebasan untuk mengemukan pendapatnya. Merekapun memiliki kebebasan untuk tidak sependapat dengan rekannya bahkan dengan guru sekalipun.
Prinsip kebebasan (freedom) disini bukan berarti sikap permisif yang mengarah kepada berkurangnya sikap disiplin. Justru dengan melibatkan siswa dalam menyusun peraturan dikelas melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap konsensus yang mereka buat.

Siswa belajar bahwa ketika mereka telah membuat suatu peraturan kelas misalnya, maka mereka memiliki tanggung jawab sosial (social responsibility) untuk mentaati peraturan tersebut dengan segala konsekuensinya. Tidak ada satu anggota kelaspun yang luput dari peraturan yang telah dibuat bersama karena prinsip kesetaraan (equality) adalah salah satu nilai yang dianut di dalam kelas yang demokratis.
Prinsip kesetaraan ini juga menjamin bahwa semua siswa di dalam kelas mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama. Guru tidak boleh memberikan perlakuan istimewa kepada sebagian siswa dan mengabaikan siswa yang lain.

Materi pembelajaran yang berhubungan dengan masalah sosial dapat diberikan dalam bentuk diskusi terbuka yang memungkinkan siswa melihat permasalahan dari perspektif mereka, dan mendorong siswa untuk mengkomunikasikan pemahaman mereka terhadap permasalahan yang dibahas. Secara bergantian siswa dapat menjadi moderator yang memimpin jalannya diskusi. Soal-soal evaluasi yang bersifat open-ended harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk menjawab dengan bahasa mereka sendiri. Guru harus memberikan apresiasi kepada jawaban siswa tersebut, sejauh jawaban tersebut sesuai dengan logika.

Contoh yang paling sering muncul dalam soal test untuk siswa SD di Indonesia adalah ”Setiap hari ibu pergi ke …………..”. Jawaban yang diharapkan dari siswa adalah ”Setiap hari ibu pergi ke pasar”, siswa yang menjawab selain itu akan disalahkan. Soal ini merupakan salah satu contoh soal yang membatasi cara berpikir siswa dan menunjukkan otokrasi guru yang salah kaprah.
(IS)

Articles 7:26 am


1. Teori Demokrasi dan Kepemimpinan demokratis

Menurut John Dewey (1935), demokrasi bukan hanya sekedar kebebasan dalam tindakan, namun terutama kebebasan kecerdasan (freedom of intelligence). Dewey mengatakan bahwa :
unless freedom of action (is guided) by intelligence, its manifestation is almost sure to result in confusion and disorder (Dewey, 1935, dalam Wraga, 1998)
Oleh karena itu komitmen demokrasi untuk membebasan kecerdasan lebih fundamental daripada kebebasan dalam bertindak.

Ciri dari suatu kelompok yang demokratis adalah adanya unsur-unsur popular sovereignty, freedom, equality, individualism dan social responsibility. (Wraga, 1998). Secara sederhana, popular sovereignty dapat diartikan memutuskan suatu permasalahan berdasarkan kesepakatan bersama antara anggota kelompok. Kesepakatan ini dapat persetujuan seluruh anggota (consensus model), berdasarkan suara terbanyak (majority rules model), atau berdasarkan pengaruh dari anggota atau yang memiliki pengaruh lebih dalam kelompok tersebut (influence model) (Gastil, 1994)

Dalam terminasi Dewey, freedom diartikan sebagai kebebasan dalam melakukan suatu tindakan, yang didasari oleh kebebasan dalam berpikir. Untuk dapat melakukan suatu tindakan seseorang harus memiliki kemampuan untuk berpikir dan berbicara secara bebas. Jadi kemampuan melakukan refleksi dan komunikasi merupakan prasyarat (prerequisite) untuk melakukan tindakan demokratis yang cerdas (Wraga,1998)
Prinsip equality dalam sistem demokrasi menunjukkan bahwa setiap anggota kelompok adalah setara. Tidak ada anggota kelompok yang dapat mengklaim bahwa dirinya harus diperlakukan lebih istimewa dibandingkan anggota yang lain.
Integritas dari setiap anggota sebagai individu yang bebas sangat dihargai. Setiap individu mempunyai hak untuk berpendapat dan bertindak tanpa intimidasi atau tekanan dari anggota yang lain. Namun, meskipun setiap anggota memiliki kebebasan, namun adanya tanggung jawab sosial (social responsibility) membatasi kebebasan ini menjadi kebebasan yang bertanggungjawab.
Merujuk kepada pengertian demokrasi dan unsur-unsur demokrasi tersebut, maka kepemimpinan demokratis dapat di identifikasikan sebagai tipe kepemimpinan yang menerapkan prinsip-prinsip demokratis dalam pola kepemimpinannya (Dahl 1989 dalam Gastil 1994).
(Ikke Soehartina)

Articles 7:08 am


Tulisan karya Helen E. Bucklet berjudul The little Boy ini merupakan suatu tulisan yang menarik untuk direnungkan oleh para pendidik dan orang tua.
Mengisahkan tentang seorang anak yang terbiasa dengan gaya kepemimpinan otokratis gurunya sehingga pada akhirnya anak tersebut kehilangan kreativitasnya. Suatu kejadian kecil yang tanpa kita sadari mungkin pernah terjadi di kelas kita, atau di sekolah kita. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk mengembangkan potensi dirinya, kreativitasnya, justru menjadi tempat ”pembunuhan” kreativitas.
Piageat (1978) dalam Bransford dan Brown (1999) mengatakan “One of the challenges of schools is to build on children’s motivation to explore, succeed, understand and harness it in the service of learning“
Sudahkah kita sebagai pendidik dan orang tua melakukan hal itu di sekolah dan juga di rumah? Atau tanpa kita sadari kita telah bersikap seperti guru pertama dalam tulisan Bucklet ini, sehingga pada akhirnya siswa dan anak kita hanya menjadi peniru yang ulung dan bukan seorang inovator.
Selamat membaca dan merenungkan tulisan Bucklet ini.

The Little Boy
Once a little boy went to school.
He was quite a little boy
and it was quite a big school.
And when the little boy found
that he could go to his room
by walking right in from the door outside,
He was happy.
And the school did not seem quite so big any more.

One morning, when the little boy had been in school awhile,
The teacher said, “Today we are going to make a picture.”
“Good!” thought the little boy.
He liked to make pictures.
He could make all kinds:
lions and tigers, chickens and cows, trains and boats –

And he took out his box of crayons and began to draw.
But the teacher said: “Wait! It is not time to begin!”
And she waited until everyone looked ready.

“Now,” said the teachers,
“We are going to make flowers.”
“Good!” thought the little boy.
He liked to make flowers,
And be began to make beautiful ones
with his pink and orange and blue crayons.

But the teacher said,
“Wait! And I will show you how.”
And it was red with a green stem.
“There,” said the teacher,
“Now you may begin.”

The little boy looked at the teacher’s flower.,
then he looked at his own flower.
He liked his flower better than the teacher’s.
But he did not say this,
He just turned his paper over
and made a flower like the teacher’s.
It was red, with a green stem.

On another day,
when the little boy had opened the door
from the outside all by himself.
The teacher said:
“Today we are going to make something with clay.”
“Good!” thought the little boy. He liked clay.
He could make all kinds of things with clay:
snakes and snowmen, elephants and mice, cars and trucks –
And he began to pull and pinch his ball of clay.

But the teacher said,
“Wait! It is not time to begin!”
And she waited until everyone looked ready. “Now,” said the teachers,
“We are going to make a dish.”
“Good!” thought the little boy.
He liked to make dishes,
and he began to make some hat were all shapes and sizes.

But the teacher said,
“Wait! And I will show you how.”
And she showed everyone how to make one deep dish
“There,” said the teacher,
“Now you may begin.”

The little boy looked at the teacher’s disk
then he looket at his own.
He liked his dishes better than the teacher’s
but he did not say this.
He just rolled his clay into a big ball again
and made a dish like the teacher’s.
It was a deep dish.

And pretty soon
The little boy learned to wait,
and to watch,
and to make things just like the teacher.
And pretty soon
he didn’t make things on his own anymore

Then it happened.
That the little boy and his family
moved to another house, in another city.
And the little boy had to go to another school.

This school was even bigger than the other one,
And there was no door from the outside into his room.
He had to go up some big steps,
and walk down a long hall to get go his room.

And the very first day
He was there, the teacher said:
“Today we are going to make a picture,”

“Good!” thought the little boy.
And he waited for the teacher to tell him what to do.
But the teacher didn’t say anything,
she just walked around the room.

When she came to the little boy she said,
“Don’t you want to make a picture?”
“Yes,” said the little boy,
“What are we going to make?”
“I don’t know until you make it,” said the teacher.
“How shall I make it?” asked the little boy.
“Why, any way you like,” said the teacher.

“And any color?” asked the little boy.
“Any color.” Said the teacher.
“If everyone made the same picture,
and would I know who made what, and which was which?”
“I don’t know,” said the little boy,
and he began to make a red flower with a green stem.
–Helen E. Bucklet–

Articles 7:05 am


Kedudukan masyarakat dalam menunjang program pendidikan sangatlah penting. Masyarakat harus berperan serta dalam memajukan pendidikan, bersama – sama para Pembina pendidikan mencari solusi demi memajukan sistim pendidikan kita.
Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan, yang terpenting adalah bahwa masyarakat itu sendiri harus menyadari, siapapun kita harus mengajak orang untuk kebaikkan dan mencegah kemunkaran. Jadi kewajiban kitalah sebagai pembimbing agar anak– anak terhindar dari berbagai penyelewengan dan kehinaan, juga melalui kasih sayang yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat juga harus berfungsi sebagai sarana membina, apabila menghadapi orang yang membiasakan berbuat buruk, dan kalaupun harus diberi hukuman, sebagai pembina harus memilih kiat – kiat yang menjadikan hukuman tersebut efektif.
Masyarakat sangat berkepentingan mendidik dan membina kaum muda. Bersama – sama mewujudkan kebaikkan, kebajikkan dan keadilan, karena itulah masyarakat yang peduli khususnya para pembina harus memperkenalkan mereka pada berbagai strategi yang dapat mencegah mereka dari perbuatan yang sia – sia.
Konsep Pendidikan harus mampu membawa anak didik pada makna kasih sayang yang diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Keluarga dan lingkungan berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan moral anak. Karena itu, semua pihak umumnya dan pemerintah khususnya seharusnya turut bertanggung jawab menjaga moral masyarakat. Pemerintah harus lebih serius dalam masalah pendidikan.
Pendidikan adalah faktor utama dalam membangun kepribadian seseorang. Bangsa ini akan lebih maju dan berjaya apabila masyarakatnya mempunyai moral dan berpendidikan yang berkualitas. Saat ini ada puluhan ribu bahkan jutaan anak yang tidak mampu mengecap pendidikan karena keterbatasan biaya, bahkan tidak mampu membayar biaya sekolah, seharusnya ini menjadi program khusus pemerintah, ini tugas dan tanggung jawab pemerintah. Dalam UUD 45 disebutkan bahwa anak – anak yatim dipelihara oleh Negara, tetapi kenyataannya Negara belum melaksanakan kewajiban tersebut.
Tugas membina dan mendidik anak yatim sebagian diambil alih oleh masyarakat dengan membuat lembaga – lembaga yatim piatu dan lain sebagainya. Kita kalah bersaing dalam hal pendidikan dengan Negara – Negara lain, bahkan di Asia sekalipun, Indonesia tidak termasuk dalam 100 peringkat terbaik. Bahkan dengan Vietnam pendidikan Indonesia tertinggal jauh. Ini disebabkan pemerintah kurang memprioritaskan masalah pendidikan di program – programnya di era global ini., oleh karena itu, perlu ada kerjasama yang baik antara pemerintah, instansi – instansi swasta dan juga masyarakat. Dengan kerjasama yang baik diharapkan mendapatkan hasil yang baik pula, walaupun ini membutuhkan waktu yang lama, tetapi dengan tekad, kemauan serta semangat yang tiada henti, Insya Allah pendidikan di Indonesia bisa bangkit sehingga dapat bersaing dengan Negara – Negara maju.
Menurut para pakar, diantaranya adalah Abdurrahman Al Banni, ada beberapa unsur untuk dijadikan sebagai konsep pendidikan yaitu :
- Menjaga dan memelihara.
- Mengarahkan potensi dan bakat agar
mencapai kebaikkan dan kesempurnaan. Seluruh proses diatas itu dilakukan secara bertahap. Dari pengertian – pengertian dasar diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa :
Pertama, Pendidikan merupakan kegiatan yang betul – betul memiliki tujuan sasaran dan target.
Kedua, Pendidikan yang sejati dan mutlak adalah Sang Maha Kuasa. Diatas pencipta fitrah, pemberi bakat, pembuat berbagai contoh perkembangan, peningkatan dan interaksi fitrah sebagaimana dia pun mengatur semua aturan guna mewujudkan kesempurnaan, dan kemaslahatan.
Ketiga, Pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan urutan sistematika menanjak yang menbawa arah dari suatu perkembangan ke perkembangan lainnya. (Susana)